Sejarah Desa


Awal terjadinya desa adalah terdiri dari beberapa fase yaitu :

a. Penduduk Pertama

Desa Guguk merupakan salah satu desa tua di Kecamatan Renah Pembarap (pemekaran dari Kecamatan Sungai Manau), Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, yang terbentuk sejak sebelum masa penjajahan Belanda, dengan nama Pelegai Panjang. Menurut keterangan sejarah orang tua dulu, seseorang  yang bernama Syeh Rajo dan istrinya bernama Puti Gando Ayu mereka mempunyai  anak yang  bernama Puti Mayang Sari, keluarga ini berasal dari jawa mataram. Waktu itu beliau bermunkim di Renah Mangka-i yang terletak di seberang Dusun Kungkai di ilir Teluk Wang. Dari ilir Teluk Wang beliau pindah lagi menyusuri air sungai sirih yang kini bernama sungai merangin mereka mencari tempat yang aman, baik dari segi makanan maupun dari segi sosial.  Habis hari berganti hari menyusuri sungai sirih tersebut sehingga beliau sampailah keteluk air disungai sirih yang sekarang terletak di seberang dusun guguk, mereka berasumsi bahwa di Teluk sungai Sirih ini bagus untuk membuat umu atau ladang dan tempat yang sangat aman untuk membuat pedukuh atau perkumpulan. Waktu itu teluk sungai sirih,  tempatnya masih rimbo ganu (banyak hutan) sama sekali belum dijamah manusia. Setelah Syeh  rajo dan anak istrinya tinggal diteluk sirih beliau mulai membuat pedukuh (perkumpulan) dan perkumpulan itu hidupnya rukun dan damai. Menurut pepatah adat : teluk tenang rantau selesai, air jernih ikannyo jinak, rumput mudo kerbau nya gemuk,  bumi subur padi menjadi, rakyat seluko sekato! dari perkumpulan itu banyak warga mencari ikan dan berladang disungai nilo yang menggunakan perahu. 

 

b. Terbentuknya Perkampungan

Dari perkembangan itu, Syeh Rajo mengadakan rapat untuk bermusyawarah hendak mendirikan gedung nan sebuah ( sebuah rumah) tempat rapat kecik (untuk pertemuan kecil) rapat gedang (untuk pertemuan besar). Pada tahun 1150 M perkumpulan tersebut langsung diberi nama paligai panjang, arti dari paligai panjang adalah orang yang menggunakan tongkat untuk mengerakkan perahu  dari sungai nilo sampai ke ujung tanjung yang berada didekat teluk sirih, maka dinamakanlah dusun tersebut dusun paligai panjang.

Setelah itu Sultan Mudo Lurah berserta isteri bernama Meh Bulan yang berasal dari Pagaruyung Sumatera Barat. Dimasa itu beliau bermukiman di Ujung Tanjung muara Sekiau yang sekarang disebut dengan Desa  Tamiai,  dari situ beliau pindah lagi pada tahun 1160 SM beliau mengilir batang air sungai sirih yang bernama sekarang sungai Batang Merangin, untuk  mengilir sungai tersebut menggunakan sebuah rakit bambu. Hari berganti hari, maka sampailah mereka ketempat sungai malindan, disinilah mereka berkebun-kebun atau berladang dan dari perkembangan itu Sultan Mudo Lurah mendapat keturunan yang bernama Meh Cayo ,

 

Setelah anak dari sultan mudo ini besar lalu anaknya menikah dengan seseorang yang bernama Bujang Banyak.  Meh Cayo beserta suami pindah kesungai beringin yang sekarang dinamakan tepian sungai yang terletak didusun guguk, waktu itu sungai beringin masih terdapat banyak hutan dan buah-buahan hutan sangat lebat, rotan dan akar melambai keseberang sungai. Maka oleh sebab itu hubungan Jalan dari Sungai Sirih ke Bangko dan Ke Sungai Penuh masih menempuh Rimba dan berjalankan kaki. Waktu  itu Bujang banyak beserta istrinya Meh Cayo mulai membuat talang atau ladang bersama warga secara ber Guguk-Guguk atau secara berkumpul (berdekatan) yang berlandasan dengan kedamaian. Maka dibuatlah nama kawasan sungai beringin menjadi kawasan Dusun Guguk dan diperbesarkan lagi Menjadi desa Guguk.